sebuah janji dari ku untuk mu , dikutip dari kata-kata BJ habibie
" ketika kita masuk terowongan yang gelap , tanpa mengetahui kemana arah terowongan itu . sebuah terowongan pasti mempunyai ujung , dan ujung tersebut memancarkan cahaya . saya berjanji akan membawamu ke cahaya itu "
Selasa, 14 Januari 2014
biografi wardiman djojonegoro
Wardiman Djojonegoro lahir di
Pamekasan, Madura pada tanggal 22 Juni 1934. ia adalah anak ketiga dari sebelas
bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai kepala Sekolah Hollandsch Inlandsche Shool
(HIS). Ayahnya harus berpindah-pindah setiap dua tahun sekali ke kota yang
berbeda bersama keluarganya. Oleh karena itu, Wardiman menempuh pendidikan
sekolah dasar dan menengah di beberapa kota: Pemalang, Jawa Tengah, Samarinda
dan Balikpapan, Pamekasan, Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Ia menamatkan
sekolah menengah atas (SMA) pada tahun 1953 di Surabaya. Pada bulan September
1953 melanjutkan studi di Institute Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik
Mesin. Pada bulan Mei 1954, Wardiman menyelesaikan ujian tingkat pertama
(propadeuse) dengan hasil sangat memuaskan.
Dengan hasil itu, pemerintah
memberikan beasiswa kepada Wardiman untuk melanjutkan studi di Technische
Hogeschool Delft (TH Delft) di Nederland jurusan Arsitektur Perkapalan pada
tahun 1955. Pada saat itu, konflik Indonesia-Belanda tentang Irian Barat (Papua)
telah mendesak pemerintah untuk menarik semua mahasiswa di negeri Belanda.
Wardiman pun harus meninggalkan Delft pada tahun 1958 dan kemudian melanjutkan
di Rheinish-Westfaelische Technische Hocbshule di Aachen, Jerman Barat dan
memperoleh gelar Diplom Ingenieur (Dilp. Ing) pada bidang Teknik Mesin pada
tahun 1962. Beberapa tahun kemudian, Wardiman kembali ke TH Delft dan pada
tahun 1985 berhasil mempertahankan disertasi dengan judul: Shipping as a
Decisire Paramater in Indonesia’s energy source development “policies for the
shipbuilding industry.”
Kembali ke Indonesia dari
Aachen, Wardiman pertama-tama bekerja dalam jangka waktu yang pendek di Bank
BAPINDO (1963-1967), dan kemudian bergabung dengan Pemerintah Daerah DKI
Jakarta dari tahun 1966-1979. Tidak lama setelah Kantor Menteri Negara Riset
dan Teknologi dibentuk, Wardiman diangkat menjadi Asisten Menteri I Riset dan
Teknologi (1979-1988). Tugas ini melibatkannya pada tugas-tugas di BPTT sebagai
Direktur Analisa Sistem (1981-1982) dan sebagai Deputi Ketua BPPT untuk Bidang
Administrasi (1982-1993). Dan, pada tahun 1993 Wardiman diangkat oleh Presiden
Soeharto menjadi Menteri Pendiidkan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan VI.
Menjadi Menteri Pendidikan
Dalam memoarnya, Wardiman berujar, “Seandainya ada suatu hari yang paling berkesan dalam seluruh kehidupan, hari itu adalah ketika untuk pertama kalinya saya menerima telepon dari Bapak Presiden, yaitu mendapat penugasan untuk memimpin suatu departemen yang besar di Republik tercinta ini.”
Dalam memoarnya, Wardiman berujar, “Seandainya ada suatu hari yang paling berkesan dalam seluruh kehidupan, hari itu adalah ketika untuk pertama kalinya saya menerima telepon dari Bapak Presiden, yaitu mendapat penugasan untuk memimpin suatu departemen yang besar di Republik tercinta ini.”
Penunjukkan tersebut membuat
hati Wardiman bergetar oleh dua perasaan yang saling bertentangan. Beberapa
saat setelah menerima tugas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, muncul
perasaan haru, terhormat, bangga serta beruntung. Namun, secara bersamaan
muncul pula perasaan was-was, keragu-raguan serta mempertanyakan akan kemampuan
dirinya untuk mengemban tugas tersebut. Hal ini bercampur dengan beberapa hal
yang sempat membuatnya pesimis, misalnya, pertama, lembaga Negara yang akan
dipimpin adalah Departemen yang besar. Departemen ini memiliki jalur birokrasi
yang kompleks dan rumit baik secara horisontal, vertikal maupun spasial.
Sehingga, permasalahannya pun sangat luas dan relatif berat.
Kedua, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan memiliki pakar dan ahli yang paling banyak jumlahnya sehingga
relatif sulit untuk diselaraskan dengan pemikiran yang ada. Ketiga, latar
belakang pendidikan yang dimiliki oleh Wardiman lebih banyak pada aspek teknik
bukan pada aspek politik, apalagi pada aspek-aspek pendudukan sehingga perlu bekerja
keras untuk melaksanakan tugas secara lebih memadai. Walaupun demikian,
Wardiman mengakui ketiga kesulitan tersebut tidaklah menjadi penghambat. Namun,
hal tersebut menjadi dorongan, semangat, dan kehati-hatian agar amanat yang
diberikannya dapat terlaksana dengan baik.
Dirasa perlu untuk menelusuri
jejak para pendahulu yang sudah berjuang pada jalur yang sama, paling tidak 25
tahun sejak awal kebangkitan Orde Baru. Dengan kata lain, pembangunan tidaklah
harus dimulai dari nol karena Menteri-menteri terdahulu telah meletakkan
landasan. Segala kekuatan yang ada perlu diteruskan dan lebih diperkuat lagi,
sedangkan masalah-masalah yang masih ada perlu dipecahkan dengan
gagasan-gagasan yang perlu diperbaharui.
Dipahami pula bahwa menerapkan
gagasan-gagasan yang lebih akurat dalam pembangunan pendidikan di masa depan,
diperlukan penelusuran pengalaman ke belakang sejauh mungkin. Situasi politik,
ekonomi, budaya dan teknologi terus berkembang sejalan dengan perubahan
aspirasi, cita-cita, dan harapan sehingga melahirkan tantangan-tantangan yang
juga terus berkembang seolah tanpa batas.
Penelusuran sejarah pendidikan
ini ditulis secara pribadi oleh Wardiman dengan judul: Lima Puluh Tahun
Perkembangan Pendidikan Indonesia (1996). Pendidikan pada awal zaman kemerdekaan
(1945-1968) diselenggarakan sesuai dengan kondisi pada waktu itu, yaitu
perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan sejak Proklamasi Kemerdekaan 1945
sampai tahun 1968. pada periode itu, sistem pendidikan masih sangat bervariasi
serta ditandai oleh keragaman sistem dan tujuan pendidikan dari berbagai
kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Pada periode tersebut, Wardiman
menyatakan tidak banyak yang dapat dipelajari dari pengalaman dalam pembangunan
pendidikan dan kebudayaan karena upaya pembangunan nasional yang sistematis
boleh dikatakan belum dimulai secara utuh. Namun, satu hal yang dapat
dipelajari dari kurun waktu tersebut ialah bahwa pembangunan sistem pendidikan
dan kebudayaan yang dipengaruhi oleh situasi politik yang belum stabil menyebabkan
pembangunan pendidikan tidak mungkin berjalan lancar.
Kemudian, pendidikan selama
periode Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I) tahun 1969/1970-1993-1994
merupakan periode keemasan dalam pembangunan pendidikan di tanah air.
Kesempatan belajar pada setiap jenis dan jenjang pendidikan terus diperluas.
Jumlah sekolah dasar tumbuh hampir 10 kali lipat dari 17.848 pada tahun 1940
menjadi sekitar 173.000 pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi sebesar
109 persen. Sementara, jumlah sekolah lanjutan tingkat pertama tumbuh 84 kali
lipat dari 322 pada tahun 1945 menjadi 26,9 ribu pada tahun 1993/1994 dengan
angka partisipasi sebesar 55 persen. Kemudian, untuk sekolah menengah atas
bertambah 400 kali lipat dari 27 buah pada tahun 1940 menjadi 79 buah pada tahun
1945, dan 10,7 ribu buah pada tahun 1993/1994 dengan angka partisipasi sebesar
43 persen. Sejak tahun 1945, jumlah perguruan tinggi tumbuh dari 38 menjadi
1.228 perguruan tinggi negeri dan swasta dengan jumlah mahasiswa lebih dari 2
juta orang pada tahun 1993/1994, dengan angka partisipasi sebesar 9,5 persen.
Singkatnya, terdapat tiga fokus
program dan kebijakan yang dilakukan oleh Wardiman Djojonegoro. Pertama, aspek
perluasan kesempatan belajar, sebagai suatu proses yang sistematis dan
berkesinambungan yang dilakukan sejak awal PJP I. Perluasan kesempatan belajar
ini dilakukan dengan cara meningkatkan wajib belajar sembilan tahun (Wajar
Dikdas 9 Tahun). Hal ini sesuai dengan amanat UU Nomor 2 Tahun 1989 yang
mengonsepsikan pendidikan dasar bukan hanya SD 6 tahun, tetapi ditambah dengan
SLTP 3 tahun.
Kedua, untuk melanjutkan
kerangka landasan yang telah dibangun oleh menteri-menteri terdahulu dalam
upaya meningkatkan mutu, beberapa kelanjutan program diperkenalkan oleh
Wardiman seperti; pembinaan sekolah unggulan, peningkatan sarana dan prasarana
yang lebih memadai, pengembangan LPTK, dan peningkatan kualifikasi pendidikan
guru. Program pascasarjana dan kegiatan penelitian dan pengembangan juga
dikembangkan di perguruan tinggi dalam rangka menunjang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ketiga, sebagai implementasi dari konsep relevansi pendidikan, maka
diterapkan konsep link and match, yakni sebuah konsep yang menyelaraskan antara
dunia pendidikan dan dunia industri.
Kebijakan Link and Match
Dari ketiga program tersebut, konsep pendidikan link and match (kesesuaian dan keterpaduan) menjadi program utama yang dijalankan oleh Wardiman semasa menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Konsep ini sendiri sebenarnya tidak lahir dari pemikiran Wardiman, tetapi diintrodusir dari pendidikan di Amerika Serikat. Adalah Prof. Karl Willenbrock, pakar pendidikan dari Harvard University Amerika Serikat, yang mengusulkan gagasan perlunya perusahaan menjadi “bapak angkat” bagi perguruan tinggi. Dalam pemikirannya, perusahaan tidak sekadar memberi tempat berlatih atau menyisihkan sebagian keuntungannya, tapi juga terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Dari gagasan inilah kemudian konsep link and match diperkenalkan secara luas di dunia pendidikan.
Dari ketiga program tersebut, konsep pendidikan link and match (kesesuaian dan keterpaduan) menjadi program utama yang dijalankan oleh Wardiman semasa menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Konsep ini sendiri sebenarnya tidak lahir dari pemikiran Wardiman, tetapi diintrodusir dari pendidikan di Amerika Serikat. Adalah Prof. Karl Willenbrock, pakar pendidikan dari Harvard University Amerika Serikat, yang mengusulkan gagasan perlunya perusahaan menjadi “bapak angkat” bagi perguruan tinggi. Dalam pemikirannya, perusahaan tidak sekadar memberi tempat berlatih atau menyisihkan sebagian keuntungannya, tapi juga terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Dari gagasan inilah kemudian konsep link and match diperkenalkan secara luas di dunia pendidikan.
Gagasan ini awalnya barangkali
berangkat dari kerisauan tentang banyaknya lulusan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan, baik dari segi tingkat keterampilan maupun dari segi jenis
keterampilan yang dibutuhkan. Dunia pendidikan dan dunia kerja seringkali
berjalan sendiri-sendiri. Menurut pengakuan Wardiman, konsep link and match
berangkat dari keadaan riil masyarakat. Sepanjang masa, yang dibutuhkan adalah
tenaga kerja terampil, serta lulusan sekolah yang memiliki keterampilan yang
memadai (sesuai). Diakui oleh Wardiman, lembaga pendidikan selama kurun waktu
sejak kemerdekaan belum mampu memenuhi kedua tuntutan tersebut.
Indikatornya ialah, banyak
lulusan sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Banyak lulusan yang menganggur, Praktis pendidikan selama ini
kurang memberikan penekanan pada kebutuhan nyata. Konsep link and match, dalam
hal ini lantas dimasukkan sebagai terapi, untuk mengatasi. Secara praktis,
perlu dikembangkan kembali sekolah kejuruan dan disusul dengan serangkaian
kerja sama Depdikbud dengan perusahaan-perusahaan serta instansi-instansi yang
secara riil menikmati keuntungan, misalnya dalam hal menyediakan tempat untuk
pemagangan anak-anak sekolah. Termasuk di dalam rangkaian upaya ini adalah
merealisir 20 persen kurikulum lokal.
Dengan kata lain, kebijakan link
and match ini merupakan kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang
dikembangkan untuk meningkatkan relevansi pendidikan, yaitu relevansi dengan
kebutuhan pembangunan umumnya dan dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha dan
dunia industri. Jadi, esensi dari relevansi adalah upaya menciptakan
keterkaitan dan kesepadanan antara pendidikan dan pembangunan. Dalam buku
Kumpulan Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, Prof.
Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro (Balitbang Diknas, 1996), Wardiman menyatakan
kebijakan link and match dirasakan semakin penting karena beberapa
kecenderungan sebagai berikut.
Pertama, sejalan dengan
meningkatnya pembangunan nasional maka semakin meningkat pula tingginya tuntutan
dunia kerja akan tenaga kerja yang bermutu baik secara kualitas maupun
kuantitas. Kedua, perubahan struktur dan persyaratan dunia kerja yang semakin
kompetitif dan mengandalkan keahlian dalam bidang tertantu, tanpa mengabaikan
wawasan dan pengetahuan secara interdisiliner. Ketiga, pandangan yang cenderung
menganggap bahwa tujuan pendidikan hanyalah untuk pengembangan kepribadian
sudah mulai bergeser menjadi cara berpikir yang memandang bahwa pendidikan
semestinya menyiapkan peserta didik secara utuh, meliputi pengetahuan, sikap,
kemauan, dan keterampilan fungsional bagi kehidupan pribadi, warga negara dan
warga masyarakat, serta upaya mencari nafkah. Keempat, semakin populernya
konsep pengembangan SDM yang mendapatkan prioritas yang tinggi. Dalam hal ini,
pendidikan dipandang sebagai upaya pengembangan SDM yang berkualitas. Konsep
pengembangan SDM ini mengimplikasikan bahwa pendidikan merupakan wahana untuk
pembangunan dan perubahan sosial, dan pendidikan juga merupakan investasi untuk
masa depan.
Implementasi link and match
tersebut dapat kita telusuri dalam kurikulum pendidikan 1994.
Ketentuan-ketentuan yang ada dalam Kurikulum 1994 adalah: (1) bersifat
Objective Based Curriculum; (2) nama SMP diganti mejadi SLTP (Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama) dan SMA diganti SMU (Sekolah Menengah Umum); (3) mata
pelajaran PSPB dihapus; (4) program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13
mata pelajaran; (5) Program pengajaran SMU disusun dalam 10 mata pelajaran; (6)
Penjurusan SMA dilakukan di kelas II yang dari program IPA, program IPS, dan
program Bahasa. Selain berisi pokok-pokok perubahan di atas, kurikulum 1994
juga menekankan pada pengembangan pendidikan kejuruan melalui jalur Pendidikan
Sistem Ganda (PSG) di sekolah-sekolah kejuruan (SMK).
PSG ini merupakan bentuk
penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara
sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan
keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja atau praktik langsung di dunia
kerja. Melalui PSG, pendidikan dapat lebih terarah untuk mencapai tingkat
keterampilan atau keahlian profesional tertentu. Sedangkan tujuan PSG sendiri
antara lain: (1) menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional;
(2) memperkokoh link and match antara sekolah dengan dunia kerja; (3)
meningkatkan kesangkilan proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang
berkualitas; dan (4) memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman
kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
Konsep dan Spektrum Link and
Match
Link secara harfiah berarti adanya pertautan, keterkaitan, atau hubungan interaktif, dan match berarti cocok, padan. Pada dasarnya link and match adalah keterkaitan dan kecocokan antara proses dan produk pendidikan dengan kebutuhan (needs, or demands). Kebutuhan ini bersifat sangat luas, multidimensional dan multisektoral, mulai dari kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, kebutuhan masyarakat dan Negara, dan kebutuhan pembangunan termasuk kebutuhan dunia kerja.
Link secara harfiah berarti adanya pertautan, keterkaitan, atau hubungan interaktif, dan match berarti cocok, padan. Pada dasarnya link and match adalah keterkaitan dan kecocokan antara proses dan produk pendidikan dengan kebutuhan (needs, or demands). Kebutuhan ini bersifat sangat luas, multidimensional dan multisektoral, mulai dari kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, kebutuhan masyarakat dan Negara, dan kebutuhan pembangunan termasuk kebutuhan dunia kerja.
Dari perspektif ini, link lebih
menunjuk pada proses yang berarti bahwa proses pendidikan seharusnya sesuai
dengan kebutuhan pembangunan sehingga hasilnya juga match atau cocok dengan
kebutuhan pembangunan dilihat dari jumlah, mutu, jenis maupun waktu. Dengan
demikian, konsep link and match pada dasarnya adalah supplay and demand dalam
arti luas, dunia pendidikan sebagai lembaga yang mempersiapkan SDM, dan
individu, masyarakat, serta dunia kerja sebagai pihak yang membutuhkan.
Kebutuhan tersebut adalah tuntutan dunia kerja atau dunia usaha yang dirasakan
amat mendesak. Karena itu, prioritas link and match diberikan pada pemenuhan
kebutuhan dunia kerja.
Pada jenjang pendidikan dasar,
link and match ditujukan untuk pembentukan pribadi yang berbudi pekerti luhur,
beriman dan bertakwa, berkemampuan, dan mempunyai keterampilan dasar untuk
pendidikan selanjutnya di tingkat menengah, dan untuk bekal hidup. Penekan
terakhir ditujukan untuk memperoleh keterampilan dasar sebagai bekal hidup yang
belum sepenuhnya mengarah pada bidang kejuruan atau pekerjaan tertentu, tetapi
merupakan keterampilan dasar untuk belajar yang dapat dikembangkan lebih
lanjut. Dengan konsep link and match, lulusan pendidikan dasar adalah mereka
yang mampu belajar tetapi tidak seharusnya dianggap memiliki keterampilan kerja
dan siap untuk bekerja. Tenaga terampil harus dihasilkan dari lulusan
pendidikan dasar (SD dan SLTP) yang dilengkapi dengan kursus dan pelatihan yang
diselenggarakan melalui jalur pendidikan luar sekolah.
Pada jenjang pendidikan
menengah, link and match, ditujukan untuk membekali pengetahuan dan
keterampilan pada peserta didik agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan ke
jenjang pendidikan tinggi atau kemampuan untuk bekerja. Konsep link and match
pada pendidikan menengah kejuruan lebih diarahka untuk menghasilkan lulusan
yang diproyeksikan menjadi tenaga kerja tingkat menengah yang terampil. Mereka
diharapkan mampu mengisi kebutuhan berbagai jenis lapangan kerja sesuai dengan
tingkatannya serta belajar menyesuaikan keterampilanya dengan perkembangan.
Untuk tujuan tersebut, penerapan link and match lebih ditujukan pada
pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
Kemudian pada pendidikan tinggi,
konsep link and match lebih diarahkan pada peningkatan perguruan tinggi dalam
menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri, baik dari segi
jumlah, komposisi menurut keahlian, maupun mutu keahlian yang dimiliki.
Pendidikan tinggi juga harus mampu menghasilkan lulusan yang seimbang, baik
dilihat dari kemampuan profesional maupun kemampuan akademik. Kemampuan
akademik menekankan pada kemampuan penguasaan dan pengembangan ilmu, dan
kemampuan profesional menekankan pada kemampuan dan keterampilan kerja.
Dengan demikian, berarti bahwa
konsep link and match berlaku untuk semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
Namun, perlu dicatat bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan dan semakin
spesifik bidang yang dipelajari, semakin tinggi pula derajat penerapan link and
match.
Link and Match: Dilema dan
Kritik
Seperti dijelaskan di atas, dasar kebijakan link and match adalah berangkat dari kebutuhan riil masyarakat terhadap dunia kerja. Sepanjang sejarah, dunia industri (usaha) membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan memadai. Tujuan link and match dengan demikian adalah mencetak SDM handal dan terampil yang siap mengisi kebutuhan dunia usaha.
Seperti dijelaskan di atas, dasar kebijakan link and match adalah berangkat dari kebutuhan riil masyarakat terhadap dunia kerja. Sepanjang sejarah, dunia industri (usaha) membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan memadai. Tujuan link and match dengan demikian adalah mencetak SDM handal dan terampil yang siap mengisi kebutuhan dunia usaha.
Dalam perkembangannya, penerapan
kebijakan link and match memang menuai banyak kritik dan kontroversi serta
menyimpan dilema tersendiri. Link and match menjadi sebuah dilema karena di
satu sisi kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat
Indonesia, yang dengan demikian mampu bersaing dalam dunia kerja (usaha). Masih
hangat dalam ingatan kita, sampai kini masyarakat masih berbondong-bondong
memasukkan anaknya untuk bersekolah di jenjang pendidikan kejuruan, dengan satu
harapan mereka dapat lekas bekerja.
Sementara di sisi lain,
kenyataan tak selamanya akur dengan harapan kebanyakan orang. Sebab, secara
kualitas lulusan pendidikan kejuruan tidak selamanya match dengan kebutuhan
dunia usaha yang semakin kompleks dan kompetitif. Banyak pengalaman siswa
lulusan SMK Teknik Mesin, misalnya, dalam realitasnya justru bekerja sebagai
staf administasi kantor atau buruh pabrik. Sebaliknya, lulusan SMK Akutansi
justru menjadi montir di bengkel mobil.
Selanjutnya, realisasi dalam
praktik di lapangan juga seringkali bertolak belakang dari rencana yang
diterapkan oleh pemerintah. Contoh, belum sepenuhnya janji dan kerja sama
antara pemerintah dan dunia bisnis (usaha) seringkali hanya manis di atas
kertas. Alhasil, kesempatan kerja lulusan pendidikan kejuruan menjadi sangat
terbatas, atau bahkan nihil sama sekali. Dan, kritik mendasar yang dapat kita
alamatkan pada konsep link and match ini adalah bahwa terkesan konsep ini hanya
berorientasi ekonomis, serta meminggirkan substansi pendidikan sebagai wahana
pencerdasan, ruang aktualisasi diri, proses pencarian dan penemuan jati diri,
serta proses pemerdekaan (pembebasan) anak didik sesuai naluri dan keinginan
mereka. Kritik ini sangat beralasan, sebab dalam naungan konsep ini, anak didik
dituntut untuk mengerjakan segala sesuatu yang berdaya jangka pendek dan
berorientasi target. Kita juga dapat menambahkan bahwa biaya pendidikan yang
dikeluarkan untuk memenuhi serangkaian konsep link and match juga tidak
sedikit. Contoh, biaya mengikuti PSG dan biaya membeli peralatan teknis yang
mendukung dan sebagainya.
Terus Berkarya
Wardiman Djojonegoro mengemban amanat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selama 5 (lima) tahun, yakni sejak tahun 1993 sampai tahun 1998. Serah terima jabatan antara Wardiman dan penggantinya yakni Wiranto Arismunandar berlangsung pada 18 Maret 1998. Purna jabatan sebagai menteri, Wardiman pernah stres pada tahun pertamanya setelah pensiun. Padahal, ia sudah mempersiapkan diri sebelum pensiun. Ia berujar, ”Karena banyak membaca buku tentang keadaan di Amerika Serikat dan Eropa, Saya mempersiapkan sekadarnya. Tetapi, saat mulai pensiun, ternyata yang saya bayangkan sebelumnya tentang pensiun berbeda.” Persiapan yang dilakukan tersebut misalnya menyiapkan tabungan untuk keluarga, memberikan pendidikan kepada anak-anak, dan menerima masukan untuk menikmati hidup dengan melakukan berbagai hobi, seperti membaca buku dan fitness.
Wardiman Djojonegoro mengemban amanat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selama 5 (lima) tahun, yakni sejak tahun 1993 sampai tahun 1998. Serah terima jabatan antara Wardiman dan penggantinya yakni Wiranto Arismunandar berlangsung pada 18 Maret 1998. Purna jabatan sebagai menteri, Wardiman pernah stres pada tahun pertamanya setelah pensiun. Padahal, ia sudah mempersiapkan diri sebelum pensiun. Ia berujar, ”Karena banyak membaca buku tentang keadaan di Amerika Serikat dan Eropa, Saya mempersiapkan sekadarnya. Tetapi, saat mulai pensiun, ternyata yang saya bayangkan sebelumnya tentang pensiun berbeda.” Persiapan yang dilakukan tersebut misalnya menyiapkan tabungan untuk keluarga, memberikan pendidikan kepada anak-anak, dan menerima masukan untuk menikmati hidup dengan melakukan berbagai hobi, seperti membaca buku dan fitness.
Di awal pensiun, Wardiman memang
banyak mengisi waktu dengan menjalankan hobinya, yaitu fitness dan membaca
buku. Dia juga bergabung bersama teman-temannya yang hobi golf. Tetapi, ia
mengaku sesudah empat sampai lima kali bermain golf menjadi bosan karena tidak
ada tujuan yang jelas. Ia stres karena punya terlalu banyak waktu, tetapi tidak
punya program. Ia kehilangan tim yang selama itu membantunya bekerja. Ia juga
kehilangan teman-teman dan merasa dilupakan masyarakat. Dalam kondisi inilah
Wardiman mulai berubah. Selain menjaga kondisi fisik, ia mulai menyibukkan
diri, misalnya dengan belajar tentang komunikasi di lembaga public speaking
Toastmasters, menjadi penasihat di Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI),
dan berceramah di Universitas Padjadjaran yang menjadi almamaternya. Tahun
2004, kegiatannya bertambah dengan menjadi Ketua Yayasan Puteri Indonesia.
Dengan berbagai kesibukan, Wardiman mulai merasakan hidup yang berkualitas.
Berdasarkan pengalamannya ini, ia pun tak setuju dengan pendapat bahwa penisun
adalah waktunya untuk istirahat total.
Sampai saat ini, Wardiman juga
masih aktif bergelut dalam dunia pendidikan dengan menjadi pemateri dalam
berbagai seminar, simposium, dan workshop di lingkup lembaga pendidikan.
Sebagai pengamat pendidikan, ia banyak menelurkan ide, gagasan maupun kritik
terhadap dunia pendidikan saat ini.
Selama karirnya, Wardiman
menulis sejumlah buku antara lain; Shipping as a Decisive Parameter in
Indonesia’s Energy Source Development: Policies for the Shipbuilding Industri
(Disertasi, Technische Hogeschool Delft Press, 1985), Kumpulan Pidato Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. Wardiman
Djojonegoro (Balitbang Diknas, 1996), Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan
Indonesia (Balitbang Diknas, 1996), Lima Tahun Mengemban Tugas Pengembangan
SDM, Tantangan yang Tiada Hentinya (Balitbang Diknas, 1996), Pengembangan
Sumberdaya Manusia Melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) (Balitbang Diknas,
1998).
Langganan:
Postingan (Atom)